― Advertisement ―

spot_img

Siswa SMP 2 Tanjungbalai Juara 3 Pantomim

Tanjungbalai (Klik Cerah) - Siswa SMP Negeri 2 Tanjungbalai menorehkan prestasi bidang Pantomim dalam ajang Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tingkat SMP Kota Tanjungbalai, Selasa 7 Mei 2024.

Nilai

Oleh: Asrial Mirza

SUATU SIANG pada sebuah Sekolah Dasar Swasta. Perempuan muda itu meletakkan pantatnya. Duduk di bangku kayu panjang. Persis menghadap ke taman. Dengan wajah tampak kesal. Rasa kesal yang dibawa sejak keluar kelas. Sementara itu agak berjarak dari duduknya. Seorang anak laki-laki berusia 10 tahun, duduk. Wajahnya menghadap lantai. Matanya menatap petak-petak keramik. Keramik yang terpasang rapi. Persis di bawah sepatunya. Sesekali dia menoleh ke arah kanan. Hanya ekor matanya saja. Sama sekali tidak berani mengangkat muka. Perempuan itu adalah ibunya. Yang matanya tidak lepas dari raport di tangannya.

MENDADAK mereka menoleh bersamaan. Saling bertatapan tanpa bicara. Wajah perempuan itu sinis. Dan anak lelaki itu tak kuasa melihatnya. Lalu menunduk kembali secapatnya. “Bodoh, apa saja kerjamu di sekolah.” Tiba-tiba perempuan itu menghardik. Anak itu terkejut dan jiwanya mengkerut. Tubuhnya menggigil menahan takut. Membuat mukanya semakin dalam tertunduk. Perempuan itu bangkit. Lalu bergerak menghampiri anaknya yang takut. ‘Plaaak!”. Raport di tangan dia pukullkan. Anak lelaki itu meringis. Kemudian menangis tersungguk-sungguk. Ibunya masih terus marah. Terus melampiaskan rasa kesalnya. Mengungkit-ungkit biaya sekolah. Biaya yang cukup besar untuk sekolah swata ternama. Setidaknya ternama di kota mereka. Umpatan panjang pendek dari ibunya. Umpatan tanpa titik dan koma, terpaksa dia terima. Hari itu adalah dimana dia merasa banyak kesalahan. Kesalahan yang dituduhkan ibunya. Tanpa bisa menjawab. Tanpa bisa membela diri. Dalam hati dia hanya menjerit. Walau besok atau lusa dia harus memaafkan. Memaafkan kesalahan ibunya. Terutama pada peristiwa hari ini.

PEREMPUAN MUDA dan anaknya berusia 10 tahun. Kelas 4 pada Sekolah Dasar Swasta yang terbaik di kotanya. Adalah satu dari ratusan, ribuan bahkan jutaan. Anak yang bermasalah di sekolah. Anak lelaki ini jadi sasaran kemarahan ibunya. Hanya karena nilai raport yang buruk. Anak yang lain mungkin karena bolos. Karena berkelahi dan tawuran. Korban atau pelaku bully. Atau kenakalan lainnya. Persoalan anak itu memang komplek. Bahkan menyentuh berbagai aspek. Termasuk juga aspek lingkungan. Kenyamanan dalam rumah. Perhatian dan kasih sayang orang tua. Dan persoalan anak bukan hanya pada yang kecil saja. Karena ada pada tingkat SMP dan SMA. Hanya mungkin kadar kenakalan. Atau volumenya yang berbeda-beda. Namun yang pasti, umur 0 tahun hingga 18 tahun, itu anak. Termasuk yang masih dalam kandungan ibunya. Sementara ada orang-orang yang berpendapat. Sebenarnya tidak ada anak yang nakal. Semua itu terjadi karena ketidaktahuan mereka. Ketidak tahuan tentang yang benar atau salah. Begitu juga tentang kepintaran. Tentang kecerdasan. Bahwa anak-anak bukan bodoh. Jangan katakan bodoh. Karena mungkin potensinya belum terlihat. Belum terasah kemampuannya.

ANAK ITU biasanya hanya jadi pelampiasan. Korban kemarahan dari kesalahan orang tua mereka. Orang tua yang selalu dengan egonya. Mencari kehidupan buat anak-anaknya. Terutama kebutuhan jasmani. Dengan mengabaikan kebutuhan lain. Yakni kebutuhan rohani. Yang sesungguh nya porsi rohani harus lebih. Seperti rasa aman dan nyaman. Komunikasi yang intens seluruh anggota keluarga. Khususnya melakukan ritual ibadah secara baik dan benar. Pergeseran nilai-nilai kehidupan hari ini. Adalah problem terbesar yang mendera kita. Orang tua yang merupakan pasangan suami istri. Kesehariannya, hanya bekerja dari pagi hingga petang. Karena merasakan kesepian. Seharian tidak bertemu kedua orang tua. Anak-anak akhirnya ke luar rumah. Bertemu dengan anak lain dari produk yang sama. Sama-sama kesepian. Sama-sama kehilangan sosok orang tua. Anak-anak yang senasib ini bersatu. Lalu melahirkan komunitas. Komunitas tawuran anak-anak sekolah. Kemudian meningkat menjadi Geng motor. Akhirnya mereka menjadi begal, miris.

SUATU SIANG pada Sekolah Dasar yang lain. Seorang anak perempuan terduduk lesu. Di bangku kayu panjang. Bangku yang tersusun di selasar Sekolah. Tidak jauh dari tempatnya duduk. Sorak-sorai kawan-kawannya penuh rasa suka cita. Hari ini, semua anak peserta yang menang, dapat hadiah. Peserta pekan olahraga dan seni intra Sekolah. Di hari ini, hari terakhir lomba dan pengumuman pemenang. Para wali murid diperkenankan datang. Sesekali anak perempuan itu melihat ke arah keramaian. Betawa bahagianya mereka. Kawan-kawannya yang orang tuanya datang. Bahkan, ada yang datang ayah dan ibunya. Perlahan telaga matanya basah. Dia berusaha menahan air itu turun menetes. Sementara jari tangannya, mengelus-elus medali. Medali yang masih tergantung di lehernya. Dan baru saja dikalungkan Kepala Sekolah. Juara pertama lari 100 meter putri. Dalam diam matanya menatap lurus ke pintu gerbang. Saat dia merasa pasti orang tuanya tak datang. Akhir nya air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.

KEMARIN saya bertemu Kapolres Asahan. Tentu bukan hanya saya sendiri. Bersama kawan-kawan dari Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Kabupaten Asahan. Kemarin itu kami beranjang sana. Berkenalan dengan Kapolres baru. Dan mengenalkan LPAI selaku mitra kerja. Pihak Polres menyambut baik kehadiran LPAI. Beliau sangat berharap kerjasama yang baik. Menurutnya, personil Polisi yang terbatas, merupakan problem. Karena pelanggaran hukum di wilayah ini meningkat. Terutama kenakalan di kalangan remaja. Seks bebas dan narkoba. Geng motor dan begal. Pelakunya anak-anak yang manis dan culun. “Puluhan jumlah mereka yang kami amankan. Anehnya mereka merasa tidak bersalah. Ketika mau ditahan, mereka menangis”

KITA SANGAT miris melihat kenyataan ini. Saya sangat terkejut mendapati kenyataan tersebut. Karena sungguh di luar dugaan. Di Asahan angka kriminalitas terbilang tinggi. Ironisnya, para orang tua mengatakan anaknya baik. Jam 20.00 malam sudah di rumah. Kenyataan, anak-anak ini kami tangkap tengah malam. Ini adalah kesalahan kita semua. Para orang tua. Warga lingkungan tempat tinggal. Para guru di sekolah. Dan tak terlepas aparat hukum. Kami selaku Polisi juga ada salahnya. Untuk itu, mari kita perbaiki bersama.

SIAPA DENGAN tugas apa, mungkin adalah solusi. Setiap stake holder termasuk aparat dan orang tua. Para guru dan masyarakat harus sama berbuat. Semua berbuat sesuai tupoksi. Melakukan pencegahan dan antisipasi. Terutama keluarga di rumah yang lebih peduli. Komunikasi aktif dan bekal agama yang baik. Pada akhirnya, orang tua harus menyadari. Bukan hanya menuntut nilai-nilai yang baik. Seperti nilai raport. Prestasi olahraga dan sebagainya. Sebelum mengajar kan nilai-nilai yang baik pada anak. Terutama nilai-nilai etika, moral, adab dan akhlak. WASSALAM. (*)

Penulis adalah budayawan dan tokoh masyarakat Asahan

Artikulli paraprak
Artikulli tjetër

Pilkada

Karakter